Adil?
Apakah kamu tahu rasanya menjadi anak kedua?. Mengapa anak kedua selalu menjadi perbandingan?. Mengapa anak kedua kurang diapresiasi oleh orang tua?. Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dalam benak Raina.
Raina adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ia memiliki kakak perempuan yang terpaut 6 tahun. Ia memiliki kepribadian yang berbanding terbalik dengan kakaknya.
Menurutnya menjadi anak kedua tidaklah mudah. Ia harus bisa memenuhi tuntutan orang tuanya. Secara tidak langsung ia harus menjadi penopang keluarga jika sang kakak belum memenuhi harapan orang tuanya.
Orang tuanya tidak pernah membandingkan Raina dengan sang kakak. Kenyataan itu cukup membuat Raina merasa lega. Artinya, orang tua Raina tidak seperti orang tua teman-temannya yang sering suka membandingkan anaknya. Pernyataan itu tertanam dalam diri Raina hingga beranjak dewasa. Tidak tahu kapan awal Raina menyadari bahwa kenyataan itu semakin menghilang dari dalam dirinya.
Kasih sayang mereka masih sama untuk Raina. Tapi segala sesuatu yang Raina capai belum membuat orang tuanya mengapresiasi. Orang tuanya hanya membicarakan kakak perempuannya saja. Bahkan, jika ia dan kakaknya bertengkar orang tuanya hanya berpihak kepada sang kakak.
Dari hari ke hari Mamanya raina hanya mementingkan kakaknya saja. Apapun selalu kakaknya yang didahulukan. Setiap ada acara Raina tidak pernah diajak dan diberitahu. Raina merasa sendiri dan terasingkan.
22-11-2022
Sepulang sekolah, rumah Raina tertutup rapat dan terkunci. Ia mencoba menggedor pintu rumahnya.
Tok tok tok
"Ma... Mama... Kak..."
"Kemana sih mereka? Apa mereka keluar?. Kok gak bilang-bilang. Coba aku telfon"
Tut Tut Tut
"Assalamualaikum, ma"
"Wa'alaikumussalam"
"Mama kemana?, kok rumah terkunci"
"Mama sama kakak lagi keluar belanja"
"Kok mama nggak tunggu aku?"
"Kan kamu sekolah"
"Kan bisa nunggu aku pulang dulu"
"Kelamaan kalo nunggu kamu. Udahlah cuman di tinggal belanja aja kok ribut"
"Tapi ma aku kan juga pingin ikut. Dulu aja kalo kakak sekolah juga ditungguin pulang dulu terus belanja sama-sama. Kok aku nggak?"
"Kamu kenapa sih? Cuma belanja aja kok diributin. Masalah kecil kok dibesar besarin. Udahlah mama tutup aja telponnya. Assalamualaikum"
Tut Tut Tut
"Halo ma.. maa..."
"Huuuhhh"
Sudah seminggu sejak kejadian itu, suasana rumah Raina semakin dingin dan sepi. Tidak ada canda gurau seperti biasanya. Raina dan mamanya hanya mengobrol seperlunya. Hanya ada rasa canggung dirumah itu.
Ayah Raina sudah pulang dari luar kota. Beliau menyadari rumah menjadi sepi. Akhirnya beliau menyuruh semua berkumpul untuk mengobrol.
"Ada apa ini kok rumah terasa sepi, padahal disini ada kita semua." Kata papa
"Gak tau tuh, tanya aja ke anakmu itu." Kata mama
"Apasih ma..." Kata Raina sambil menampilkan wajah sebal.
Ayah Raina mulai paham apa yang terjadi, bahwa ada yang tidak beres antara Raina dan mamanya. Karena kakak Raina hanya diam, papa raina bertanya pada sang kakak.
"Kak.. ada apa?" Tanya papa
"Anu pa... Kemarin kakak sama mama belanja tapi kita nggak nunggu Raina pulang dulu dan rumah dikunci jadi Raina nunggu lama kita pulang dari belanja." Kata kakak
"Raina kakak minta maaf ya, karena nggak ngasih tau dan lupa kuncinya kebawa." Kata kakak lagi.
Setelah mendengar perkataan kakak. Mama merasa bersalah.
"Nak, mama minta maaf ya. Mama minta maaf karena sudah marah ke Raina padahal Raina capek baru pulang sekolah dan bukannya istirahat malah nunggu kakak sama mama karena kuncinya kebawa. Sekali lagi maafin mama ya nak." Kata mama Raina sambil merasa bersalah.
"Iya Raina maafkan, tapi mama sama kakak kalau keluar bilang dulu ya!" Kata Raina
"Okee, karena sudah saling memaafkan jadi masalah sudah selesai. Tapi permintaan maaf tanpa perubahan adalah manipulasi. Ayo kita sama-sama memperbaiki diri!" Ucap papa dengan senyum teduhnya.
Keluarga adalah penggenapan janji Tuhan. Tempat dimana kami mempraktekkan anugerah Tuhan kepada satu sama lain, tempat untuk bertumbuh, mengasihi, menerima perbedaan, kekurangan, dan saling mengampuni. Orang yang kamu nyaman berada disekitar mereka dan bisa menjadi diri sendiri. Jadi ayo kita saling membangun kerjasama didalam keluarga, karena didalam keluarga bukan hanya ada saya tapi kita.

Komentar
Posting Komentar